Tampilkan postingan dengan label CERMIN-CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERMIN-CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2020

JANGAN SEPERTI BAPAK

 

JANGAN SEPERTI BAPAK

 

            Sore itu kudapati Jay sudah berdandan rapi. Kemeja hitam berpadu merah motif kotak-kotak serasi dengan blue jeans yang dia kenakan. Wajah bersihnya tampak segar. Postur tubuh yang ideal, kulit putih dan hidungnya yang mancung membuat gadis banyak yang naksir Jay. Apalagi dia pandai bergaul dan selalu memperhatikan penampilan. Tak heran jika koleksi sepatunya mengambil sepertiga bagian dari rak sepatuku.

“ Bu, aku mau main dulu.” Jay berpamitan. Kali ini tidak pakai salim dan cium tangan, apalagi cium pipi seperti biasannya. Aku mengizinkan dan menasihatinya untuk segera pulang dan jaga jarak serta kebersihan.

 “Ke mana saja Dik?, Ayo , jangan lama-lama mainnya!” Kukirim pesan untuk Jay lewart WhatsApp. Kukirim video dari instagram, tentang grafik perkembangan pandemik covid-19. Beberapa menit kemudian dia menjawab dan menjelaskan kalau main di rumah temannya, hanya berdua saja .

“Bu, aku sepertinya butuh banyak refreshing dulu. Aku tadi nyoba belajar, habis itu pusing walau sudah nggak mikir. Mungkin sisa kemarin banyak kuis dan tugas, jadinya capek.” Jay kembali menjelaskan, aku pun segera membalasnya: “Ibu juga nggak minta dan mengharuskan adik belajar terus ... semampunya, porsi disesuikan. Tapi kalau keluar ya jangan lama-lama ... kondisi seperti ini. Boleh refreshing, tapi kan tidak mesti ke luar rumah, Dik...”

Dik  adalah sapaan mesraku untuk Jay, karena dia anak kedua sekaligus bungsu. Dua jam sudah Jay ke  luar rumah dan belum pulang juga. Ku buka kembali handphone. Rupanya dia sudah menjawab: “Iya,...hari ini anak-anak pada baru pulang Bu, nggak di keramaian kok Bu ...”. Aku paham betul yang dimaksud dia dengan anak-anak  adalah sahabat karibnya semasa SMP. Mereka bertujuh, empat cowok dan tiga cewek. Persahabatan mereka tampak masih bertahan utuh hingga di bangku kuliah, walau mereka sudah tersebar diberbagai kota. “Ya udah, pakai masker. Mereka yang baru pulang kan habis dari perjalanan.” Jawabku.

            Malam itu terasakan lama. Kulihat jam di handphone menunjukkan pukul 21:18 WIB. Kuminta dia segera pulang. Lima belas menit belum juga  terjawab. Kukirim lagi pesan untuknya, aku benar-benar kesal dan marah. Aku minta dia untuk tidak membantah. “Ya, sebentar...” kata Jay merajuk.

“Tak cubit lho, Bapak dan Mas bolak-balik menanyakan ....” Pesanku belum juga terbaca.  Kukirim kembali video tentang covid-19 berdurasi 10.00 menit, dan kembali kukirim pesan untuknya dengan hati dongkol: “Jangan bandel Dik....”

Malam makin larut . Terasakan hening. Aku makin resah. Kembali kukirim pesan untuk Jay, kulengkapi emogi menangis pertanda kecewa , sangat  jengkel, tapi tak terbaca juga. Kembali kukirim video berdurasi 8.34 menit dan foto sebaran virus di Provinsi Jawa Timur, hanya centang satu.

“Kurang lama ya? Kurang malam?” lanjutku makin emosi karena tak terbaca kiriman-kirimanku. Kembali kukirim postingan dari Facebook, dan aku sreenshoot bagian isi yang terpenting, masih juga centang satu. “Istighfar Dik...” ungkapan kejengkelanku, masih juga centang satu.

Aku marah, aku lelah...Kubaringkan tubuhku. Tak lama kemudian dia datang. aku diam membelakanginya. Aku berencana akan memarahinya.

            Kudengar suara dia masuk kamar, aku masih juga diam. Aku masih geram, gemuruh kecewa beraduk marah membara dalam dada. Semua itu berakar rasa khawatir dan kasihsayangku untuknya.

Dia menghampiri, aku masih juga diam. Sesaat hening, kurasakan Jay mendekatiku, dan mencium pipiku lalu dia bilang: “Maaf Bu, bateraiku tadi habis....” Aku luluh juga....Tadinya aku mau merencanakan tidak akan menyapanya semalaman, biar dia tahu semarah apa aku.

Jay memang selalu begitu, pandai mengambil hatiku. Akhirnya akupun menasihatinya: “Dik..., jangan gitu..., kondisi seperti ini lho... ikutilah apa yang dihimbaukan oleh pemerintah. Taati itu semua.... Ibu yakin, pembuat kebijakan adalah orang-orang pintar, penuh pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Sudahlah...di rumah saja, social distancing.Yang disiplin... sekali lagi, ikutilah himbauan ataupun peraturan dari pemerintah!” tegasku.

            Pandai bergaul dan romantis, itulah sebagian karakter Jay. Sempat suatu kali saat dia berada di kantin kampus, dia mengirimkan foto kolam yang ada bunga lotusnya. Dia ingat kalau aku suka banget sama bunga itu.

            Sering kami jalan-jalan hanya berdua saja untuk sekedar refreshing dan cari makan. Sore itu kami ingin cari kesempatan ngobrol dan tempat kuliner yang kami suka. Salah satu cafe di jalan utama tengah kota menjadi tujuan kami.

Sedan hitam kami melaju pelan, dia yang megang setir memilih tempat parkir yang strategis di Selatan jalan. Untuk menuju cafe tersebut kami harus menyeberang. Dia dengan sabar, merangkul pundakku untuk menyeberang. Saat memesan menu, dia pun sudah tahu kesukaanku, yaitu karedok dan jus apokat. Dia paham betul kalau aku paling suka makanan yang banyak sayurannya.

            “Dik, yang pinter bergaul ya..., kata para pakar, faktor ini kan yang paling berpengaruh untuk menjadi orang sukses. Banyak berdoa untuk bisa memiliki kelembutan hati, supaya selalu peka terhadap lingkunganmu.” Itu sebagian nasihatku untuk Jay.

            “ Dik, tidak usah kamu pikirkan terlalu jauh tentang masa depanmu, karena itu tidak baik dan tidak bermanfaat. Malah membebanimu, bahkan bisa mengganggu pikiran yang berdampak bagi kesehatan fisikmu. Yang penting, saat ini yang bisa kamu lakukan apa, berusahalah yang terbaik. Saat ini, hari ini...tidak perlu besok atau lusa. Besok atau lusa, juga dipengaruhi dari kualitasmu hari ini. Nikmatilah prosesmu Dik, karena tidak akan terulang lagi. Dia akan berlalu bersama waktu.

            “Dik, yang ikhlas dan sabar menjalani proses kehidupanmu. Banyak berdoa, kami semua juga selalu mendoakan kebaikanmu. Semua harus berproses, tidak ada yang instan, dan memang perlu kerja keras. Yakinlah perjuanganmu tidak akan sia-sia dan pasti akan membuahkan hasil.

            “Dik, masih ingat lagu yang dikirimkan Bapak beberapa hari yang lalu? Perhatikan liriknya ya Dik...

Nak, janganlah seperti Bapak
Yang susah mewujudkan mimpinya
Besarlah dengan semua harapan yang kamu miliki
Ku iringi doa dari hati kami

Nak, maafkanlah Bapakmu
Jikalau ada yang kurang dariku
Jagalah cinta dan sebarkanlah dengan nurani jiwa
Yang akan meneduhkan semesta

Terbanglah terbang melambung ke angkasa
Turuti apa kata hatimu
Tinggilah tinggi dan seperti matahari
Menyinari seisi dunia

Nak, janganlah seperti Bapak

“Tidak usah kamu risaukan tentang kamu nanti jadi apa. Kamu kuliah di arsitektur, apakah harus jadi seorang arsitek? Tentu saja tidak. Kamu bisa jadi dosen atau yang lainnya.  Tidak untuk kamu pikirkan saat ini. Yakinlah , semua ilmu yang kamu peroleh pasti banyak manfaatnya bagi kehidupan, untuk itu bersungguh-sungguhlah.

“Kamu tentunya juga tahu, banyak tokoh  politik dan pemimpin di negeri ini yang latar belakang pendidikannya di arsitektur. Bersyukur ya Nak, kamu menjadi bagian dari kampus teknik terbaik, dengan jurusan yang tergolong favorit juga. Segala kesulitan pasti ada solusi. Teruslah berjuang untuk menggapai mimpimu. Semoga Allah memudahkan jalanmu. Teruslah menjadi Jay yang romantis, pandai bergaul dan percaya diri karena selalu ada Allah Yang Maha pengatur segala urusan dan pemberi rezeki.”

            Nasihat panjang dan doaku yang selalu mengalir, menjadi bagian teramat penting untuk Jay. Berproses dan meraih mimpi yang tinggi. Itulah harapan terindahku untuk Jay.

 

***

 

YANG TERPILIH

 


 

Dari balik jendela di kamarku
Menyelinap seberkas cahaya
Hingga ku terjaga segera ...
             Syair lagu tahun sembilan puluhan itu mengingatkanku pada Bram. Anak sulungku itu pernah bercerita kalau masa kecil yang paling diingat adalah saat pagi, aku menyanyikan lagu itu untuknya. Dua puluh satu tahun yang lalu. “Ayo, bangun sayang...,” rayuku sambil menggendong Bram mungil berkulit putih dan hidung mancung. Senyum ceria, dan bening binar matanya membuat hari-hari kami semakin indah.

Selepas lulus SMA, Bram diterima di fakultas perikanan pada sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Sebelum masa perkuliahan, Bram berangkat lebih awal untuk segera mencari tempat kos, karena mengikuti bimbingan seleksi masuk sekolah kedinasan terfavorit dan terbanyak peminatnya di tanah air.

“ Alhamdulillah Bu..., aku lolos tahap tes tulis dan beberapa hari lagi tes kebugaran” kata Bram melalui WhatsAppnya. Aku putuskan segera berangkat ke kota dingin itu  untuk mendampingi Bram pada tahap seleksi berikutnya. Aku sendirian naik bus, sore sudah sampai dan Bram pun siap menjemput dengan motornya. Hujan cukup deras, membuat kami basah dan mampir ke warung kecil. Teh hangat sudah cukup untuk menemani ngobrol.

Keesokan harinya, dini hari kami sudah siap melaju ke tengah kota.“Permisi Pak, bolehkan saya ikut masuk untuk memberi motivasi anak saya?” tanyaku kepada panitia pelaksana yang ada di tribun stadion hijau itu. “Ohya Bu, silahkan...” jawabnya.  Ribuan keluarga dari peserta seleksi, semuanya menunggu di luar area yang berbatas anyaman kawat besi.

Kulihat Bram mempersiapakan diri di antara peserta lainnya. Mereka mengenakan kaos seragam biru muda, bertuliskan angka dan huruf hitam. “Ayo Nak...semangat...!” teriakku berkali-kali sambil tepuk tangan saat Bram melalui depan posisiku. Dia tersenyum sejenak dan terus berlari, dan berlari. Terik mentari yang menyengat tubuh, tak kupedulikan.

Akhirnya, tercapai sudah obsesi Bram untuk masuk di kampus megah di bilangan Bintaro. Semester awal terlampaui dengan mulus. Menjelang semester dua, Bram mengutarakan keinginannya untuk mengundurkan diri dari tempat kuliahnya itu. Tentu saja kami sekeluarga tidak memberikan izin. “Nak, jangan...Ibu khawatir nanti kamu menyesal, itu kan pilihanmu sendiri, dan jurusanmu itu juga yang paling favorit...” ucapku.

            Semester awal, Bram terseleksi menjadi pengajar pada sebuah bimbel masuk kampus elitnya. Pada semester berikutnya terseleksi menjadi pengajar ngaji. Kadangkala dia membeli gamis atau kurta dari uang tabungan hasil kegiatannya itu. Ekstra keagamaan dan rumah Qur’an yang dia ikuti menjadikan dia semakin cinta dan haus belajar agama.

Suatu malam Bram menyampaikan kabar gembira:“Bu, kalau ngabarin tentang hasil lomba, bukan riya’ kan? Dengan catatan kabarnya cukup sampai keluarga aja, biar aman dari fitnah dan rasa dengki orang lain.” Dia menyertakan sebuah foto selembar sertifikat warna putih tulang.  MasyaAllah, berbinar bahagia aku membacanya. Bram juara satu Musabaqoh Tilawatil Qur’an dalam rangka Lomba Festival Seni dan Budaya Islam di kampus. Segera kukabarkan berita itu kepada seisi rumah.

“Alhamdulillah Nak...selamat ya sayang...” ucapku. “Ada amplopnya Bu, belum aku buka, ” ucap Bram menambahkan. Aku balas dengan emogi senyum manis, jempol dan cium mesra. “Nak, ini Ibu lagi sama Mbah Uti, beliau nangis terharu bahagia....” Aku menceritakan, betapa kami yang di rumah bahagia. Mbah Uti adalah panggilan untuk neneknya.  Nenek yang mengasuhnya waktu kecil saat aku harus bekerja. Nenek yang telah memberi warna dalam pendidikan dan kepribadian Bram.

Prestasi Bram makin cemerlang. Dia berkesempatan mewakili kompetisi antar kampus  kedinasan hingga memeroleh kejuaraan tahfiz.Tentu saja aku memberikan apresiasi untuk prestasinya.

Tiba saatnya Bram menjalani kuliah hingga di tahap akhir, yaitu semester enam. Kuperhatikan saat Bram berangkat PKL di kantor besar dan megah di tengah kota kami. Seragam atasan biru muda, bercelana biru tua, rapi dengan sepatu baru dan tanda pengenal mahasiswa bertali kuning. Tentu saja kami senang dan bangga karenanya.

Berangkat ke kantor sekitar pukul setengah tujuh, pulang hampir maghrib. Bram tampak letih dan lelah, tanpa keceriaan sama sekali. Pekan kedua, makin murung dan mulai uring-uringan. Pernah kudapati dia mimisan. Hatiku mulai gundah, dan khawatir.

Saat malam, kami di kamar bertiga, aku, Bram dan adiknya Bram, Jay namanya. Bram memulai pembicaraan: ”Bu, tolong jangan tidur dulu, aku mau bicara” kata Bram. Aku merasa gundah, pasti ini mulai lagi membahas tentang perkuliahan. Aku masih diam tidak menjawab, tiduran membelakangi Bram. Berharap Bram tidak melanjutkan pembicaraan yang aku sudah tahu arahnya.

“Bu..., sudah lebih dari dua tahun aku nuruti ibu.... Aku berhak memilih jalanku sendiri. Apa Ibu bisa menjamin agamaku selamat kalau aku tetap di situ?” Bram meneruskan bicaranya, aku masih terdiam. Dadaku terasa berdebar kencang, tercekat.

“Bu...” Bram masih juga memanggilku memohon penuh harap. Akhirnya aku jawab juga dengan berat hati: “Apa lagi Nak? Ibu kan sudah jelaskan dulu di surat panjang itu” ucapku pelan dengan emosi tertahan. Jay mendengarkan terdiam.

“Bu, aku merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu, aku tidak ingin jadi PNS. Jam kerjanya seperti ini, bagaimana dengan ibadahku? Aku tidak nyaman kerja berbaur dengan lawan jenis, belum lagi kadang harus mengikuti acara yang aku merasa tidak pas.

“Habis ini menyusun karya tulis, berarti aku berkontribusi ilmu di bidang ini, dan aku tidak mau itu terjadi. Setelah lulus nanti, lalu penempatan. Aku tidak mau terima gajinya. Jika aku tidak mau menjalani, Ibu habis banyak untuk mengganti biaya saat kuliah.”

Ungkapan Bram membuat kami semua terdiam.Malam hening makin larut terasakan sangat panjang. Suara detak jam dinding, membuat suasanya dan hatiku makin tidak karuan.

“Bu, aku ingin mondok ..., apa Ibu tidak ingin kupakaikan mahkota di surga?” Masyaallah..., kalimat Bram ini membuat hatiku menangis, terharu bahagia. “Nak..., mungkin seribu satu yang sepertimu. Dan, mungkin juga seribu satu yang seperti ibu. Ya sudah sana...bilang Bapak. Dan, kamu harus pikirkan matang-matang dengan segala konsekuensi dari pilihanmu, tidak boleh menyesal di kemudian hari!” jawabku tegas.

            Suasana di rumah makin tidak nyaman, di kantor pun demikian. Rekan-rekan kerjaku yang kebetulan dulu guru Bram, hampir semuanya bereaksi negatif, bahkan ada yang mencibir memberiku komentar yang pedas dan menganggap keputusan Bram adalah suatu kebodohan. Aku sudah tidak peduli semuanya. Bahkan aku menulis pengunduran diriku untuk menduduki suatu jabatan. Aku harus kuat. Bram harus aku dampingi untuk meraih mimpi berikutnya, masuk pondok pilihannya. Bram sangat butuh ridho dan doa kami orangtuanya.

Jay kelihatan sangat kecewa dengan keputusan kakaknya. “Bu, percuma aku belajar, Mas kok begitu...” ujarnya dengan nada marah. Jay sejak kelas X sudah mempersiapkan diri meniti jejak Bram dengan mengikuti tryout dan hasilnya sangat bagus.

“Nak, Mas Bram berhak memilih jalan hidupnya. Mas Bram sudah tidak minat, bahkan sepertinya tersiksa. Kemarin sampai mimisan kan?. Semua pasti ada hikmahnya, ini proses yang panjang dan tidak ada yang sia-sia. Mas lebih mengerti agama karena kuliah di sana.” Aku berusaha untuk memberi pengertian pada Jay.

            Seisi rumah, suamikulah yang paling nampak kecewa dan marah. Hampir dua minggu tidak saling sapa dengan Bram. Dia marah dan kecewa, hingga seisi rumah kena dampaknya. Kadang masih mengungkit-ungkit saat perjuangan bersama Bram untuk mendaftar bimbingan hingga daftar ulang serta mencari tempat kos di sekitar Jalan Kalimangso. Dia sangat menyayangkan keputusan Bram.

Suatu sore,  di teras belakang rumah, aku duduk mendekati suamiku. Hari-hari belakangan sikapnya terhadapku pun tidak seperti biasanya, kelihatan acuh. Aku memulai percakapan: “Mas..., njenengan biasa mersani TV tho? (Mas..., kamu biasa melihat TV kan?)” Dia tetap diam, murung dan sedikit cemberut.

“Mas..., berapa pejabat tinggi yang dipenjarakan? bupati, gubernur, direktur-direktur? Di mana letak bahagia mereka? keluarganya? Sudah tidak ada kedudukan, kehormatan, belum lagi tanggungjawab di akherat kelak. Semua itu karena harta...harta, kedudukan yang melalaikan dan tak ada berkesudahan untuk mendapatkannya.” Suasana tetap hening.

Suamiku masih juga terdiam, tidak sedikitpun menoleh padaku. Kupandangi wajahnya yang tampak lebih tirus, tulang pipi makin menonjol. Rupa-rupanya terasakan berat betul beban pikiran yang dipikulnya. Ya Allah...berikan kesehatan, petunjuk, dan kelembutan hati bagi suamiku... dalam hatiku berucap penuh harap.

Dengan nada pelan dan rendah, aku kembali berkata: “Setiap ada peristiwa kelahiran, doa yang mengalir adalah ‘semoga kelak menjadi anak sholeh sholehah’ bukan menjadi kaya atau berkedudukan.  Dan, Bram anak kita...semoga menjadikan doa kita semua terkabulkan. Dia juga bisa membimbing Jay untuk lebih baik. Merekalah yang akan mendoakan kita kelak....”.Kupandangi terus suamiku penuh harap, ada kilau bening di matanya.

Penuh puji syukur kepada Allah, sikap suamiku berubah seratus delapan puluh derajat. Saat aku mengirim paket makanan dan kebutuhan harian untuk Bram, dia sangat antusias, semangat dan penuh perhatian. Tidak hanya itu, dia makin sering berjamaah ke masjid. Jay pun demikian, makin sering ke masjid dan ikut pengajian.

Setelah melalui tahapan tes di pertengahan Februari 2018 akhirnya Bram berhasil diterima sebagai santri di Mahad Aly melalui jalur beasiswa empat tahun. Sebuah hasil dari perjuangan besar Bram untuk mendapatkan kesempatan emas. Dia harus lama menunggu ridho dari kami orangtuanya. Aku masih ingat betul, bagaimana dia  berjuang keras untuk bisa menguasai bahasa Arab. Berlelah-lelah untuk ikut daurah, belajar online, belajar di ustadz seminggu dua kali, bahkan ikut belajar di pondok Sedayu Gresik selama 20 hari Ramadhan.

 Selama hampir dua tahun mondok, Bram sudah pulang tiga kali dan aku baru sekali nengok sama Jay. Terharu rasanya saat melihat Bram memijat pundak dan punggung Jay karena masuk angin. Semoga mereka selalu saling menyayangi. Bram di pondok tinggal di asrama yang baru dibangun. Berteman para santri dari berbagai daerah di tanah air. Alhamdulillah Bram dipercaya sebagai pengelola bagian bahasa. Ini merupakan amanah sekaligus kesempatan serta tantangan baginya untuk makin menguasai bahasa Arab dan menjadikannya terbaik di beberapa kali ujian semester.

Setiap hari Minggu Bram mendapatkan kesempatan komunikasi dengan kami, keluarganya. Dia cerita kalau santri pondok yang tingkat SMA sudah dipulangkan sepekan yang lalu sehingga dia merasakan dampaknya. Bram menjadi kurang semangat, kepingin ikut pulang juga. Aku beri dia nasihat untuk penguatan. Ini adalah kehendak Allah SWT, pasti ada hikmah besar yang bisa diperoleh. Bram harus sabar, ikhlas, tenang, tapi tetap waspada dengan segala kemungkinan dan selalu menjaga kondisi imun tubuh.  

Di saat wabah pendemi covid-19 mulai merebak ke penjuru Indonesia dan dunia, segera aku kirim paket berisi beberapa kebutuhan harian. Ada lauk kering teri, sarden, kismis, madu, jahe dan camilan kesukaan, serta kebutuhan lain terkait menghadapi virus corona. Masker, tisue kering, tisue basah, dan  sabun cair. Selalu, setiap paket yang kukirim, aku sertakan surat untuknya sebagai motivasi.

“Bagaimana Nak, hafalanmu? Lancar ya?”.tanyaku pada Bram.‘Alhamdulillah Buk, tinggal empat jus lagi, Insyaallah Ramadhan nanti sudah selesai semua. Lomba tahfiz kemarin juga terbaik. Doakan terus ya Buk.

“Ohya Bu...alhamdulillah, secara administrasi aku lolos Bu, untuk seleksi UIM”. Ia menjawab, nampak senang dan semangat. Aku pun segera menjawabnya dengan gembira. “Alhamdulillah Nak... Kalau memang nantinya itu rezeki dari Allah untukmu, Ibu Bapak ikhlas... walau kita harus berjauhan. Ingat Nak... otak dan pikiran kita ini amanah. Banyak bersyukur ya, kamu diberi kemudahan berpikir, untuk itu...carilah ilmu sebanyak mungkin, yang nantinya kamu jadikan bekal untuk berkeluarga dan bermasyarakat” nasihatku pada Bram. Alhamdulillah, pihak pondok memberikan izin pada Bram untuk mendaftarkan diri kuliah di Universitas Islam Madinah.

Sore itu, berdesir angin lembut mengantarkan senja. Di atas hamparan hijau padi, di atas horizon,  kulihat langit indah berselimut awan tipis,  rona merah kuning keemasan. Sejenak matajiwaku merenawang ke arah sebuah desa pegunungan di wilayah kota hujan. Dari sebuah bangunan asrama santri yang berwarna hijau, keluar seorang pemuda tampan berangkat menuju masjid. Pemuda bergamis putih lengkap dengan peci Yaman,  beraroma harum segar  parfum Black Diamond.

Bram anakku, semoga Allah memberikan rahmat, dan memilihmu untuk mendapatkan hidayah. Selalu istikomah dalam ketaatan ya Nak, Ibu merindu mahkota Janatul Firdaus persembahan darimu.

Senin, 06 Agustus 2018

PIA HANGAT SORE ITU



Hampir jam 4 sore, saat motorku sampai gerbang rumah, di belakangku sudah ada motor lain yang berhenti.
Siapa ya? pikirku dalam hati.

"Oh...kamu Bima...silahkan masuk.." sapaku terhadap Bima, siswa lulusan tahun kemarin.
Bima pun tersenyum, kelihatan gigi putihnya yang rapi, sambil menyodorkan bungkusan kepadaku.

"Ini Bu...ada kue bikinan Ibuk saya..." ucapnya.
"Wah...terimakasih ya...hm...masih hangat..." aku menjyambut gembira menerima oleh-oleh darinya.

Kubuka bungkusan itu. Hm...kue pia empuk hangat dua kardus. Cocok banget ini untuk camilan. Kebetulan kue yang beginian kesukaan suami juga. Cerita Bima,kue pia itu karya ibuk dan dia, hasil karya coba-coba terinspirasi youtube.

Harus kutahan keinginanku untuk mencicipi pia itu hingga Maghrib nanti. 

Obrolan kami pun berlanjut.
Bima, siswa yang tergolong pandai, sangat suka mata pelajaran geografi, dibuktikan ikut OSN Kebumian, pilihan mapel UNnya pun geografi. Hasil kompetisi OSN Kebumian belum maksimal karena kurang fokus, waktunya banyak tersita untuk kegiatan organisasi, pastilah sangat sibuk dengan terp[ilihnya dia sebagai ketua OSIS, belum lagi dia ikut beberapa organisasi yang lain di luar sekolah.

Terbayang saat Bima masih duduk di bangku kelas X, saat murung suntuk wajahnya karena ada problem keluarga. Ayahnya yang sangat kecewa dan marah bahkan tidak mau menyapanya, karena Bima tidak mau melanjutkan kegiatan angkat beban yang menyebabkan dirinya cidera. Bima berkomitmen, bahwa dia akan sukses di bidang yang lain,salahsatunya akademik. Dan, itu akan ditunjukkan kepada orangtuanya.

Pilihan PTN yang terlalu tinggi baginya saat SNMPTN, dan tidak ikut SBMPTN. Ikut tes di STID, tidak lolos. 
Keterbatasan ekonomi, akhirnya dia memutuskan untuk bekerja, di sebuah perusahaan di kota Surabaya. Bertahan hanya sebulan, karena merasa tidak cocok, terlalu dikekang, bahkan sholat Jum'at saja kesulitan.

Akhirnya, lolos sebagai supervisor di resto ayam geprek special sambal korek di kota ledre. 

"Berapa seporsi, Bima..." tanyaku penasaran, karena kebetulan juga belum pernah nyoba kuliner di restonya.
"24 ribu Bu..., lumayan mahal dibanding yang lainnya ada yang 10 ribu, ya Bu...karena pakai ayam kampung" dia menjawab dan berusaha menjelaskan padaku.

"Ohya...memang ayam kampung mahal...tapi khan sekarang makin banyak orang yang sadar akan kesehatan" jawabku sambil tersenyum padanya.

" Saya juga usaha yang lain Bu, saya memelihara kelinci dan sudah lumayan banyak.Berkembang biaknya cepat" ucapnya semangat dengat binar bola matanya yang cerah. 
"Wah...hebat kamu..., Betul...cepet banget itu..." jawabku.

"Ke depannya, saya berencana bersama Bapak Ibuk saya, mau buka usaha rumah makan kecil-kecilan Bu...doakan ya Bu...Insyaallah tahun depan" Bima menjelaskan rencana besarnya.
" Adik saya dua Bu, yang besar kelas XI SMK, yang kecil masih SD, pastilah butuh biaya untuk sekolah dan masa depannya" dia kembali menjelaskan.
" Gimana hubunganmu dengan Bapakmu? tanyaku padanya.
/"Alhamdulillah,sudah baik Bu..." jelasnya sambil tersenyum.

"Hebat kamu Bima...sudah memikirkan semua itu...justru jiwa enterpreneurlah yang perlu kita kembangkan. Sukses itu , jika kita bisa dan mampu bertahan dalam kehidupan dan banyak memberikan manfaat untuk yang lain. Dan, Insyaallah kamu bisa melakukannya" ucapku memberikan support baginya.

Bima cerita, bahwa dia pun tidak malu untuk mencari pakan kelinci berupa limbah sayuran yang ada di pasar. Dia pun masih sempat untuk berbagi ilmu pada adik-adik SD yang butuh bimbingan belajar gratis. 

" Ya , Bima...saya doakan lancar semuanya... dan, pesen Bu Restu...tetaplah rendah hati...
Saat kamu ndaftar ke STID, kamu khan ingin berdakwah ya...? Untuk itu, lakukanlah semampumu, sebisamu di tempat kerjamu atau di mana pun" aku sedikit memberikan petuah untuk Bima.


"Buk, pamit..mau les" ucap anak bungsuku sambil mencium tanganku. 
Sempat bersalaman dengan Bima, erat dan akrab, walaupun belum pernah bertemu. 
"Sukses ya dik...." support Bima untuk anakku.
Itulah salah satu kelebihan Bima, batinku dalam hati.
Aku jadi ingat saat di kelasnya, pernah aku sampaikan bahwa menurut "penelitian", kesuksesan seseorang, 80% dipengaruhi oleh kecerdasan sosialnya. 

"Nak...ini, bawa untuk berbuka nanti di tempat les, ada kue pia hangat dari mas Bima..enak lho...buatan sendiri.." ku masukkan satu kotak kue ke dalam tas hitam di punggungnya.
"Hati-hati ya, di jalan" nasehatku pada Ramdhan anakku. 


Senyum Bima mengembang melihat semua itu. 
Ku amati penampilannya.
Pemuda yang bernama Bima Raja Saputra, saat ini makin dewasa, percaya diri, santun, rapi dan agak lebih berisi dibandingkan setahun yang lalu, di kls XII IPS 4. 
Semoga kamu sukses dalam meraih cita.
Dan, bahagiakan orangtuamu, adik2mu, dan kelak keluargamu.


***


6 Agustus 2018

Alhamdulillah...
Terasa nikmat, 
saat berbuka dengan pia isi kelapa.








DERING RINDU



Senin, Pekan terakhir bulan Juli 2018


Saat menjelang sore, ibu itu sudah tidak sabaran untuk tidak mengirim pesan.
"Nak..., ibuk udah kangen. 
Semoga kamu langsung krasan dan senang dengan lingkungan belajarmu yang baru".

Rabu, pada pekan yang sama.
Pagi hari, sms berikutnya pun dikirim, walaupun tidak ada jawaban.
"Nak...sudah seminggu kamu belajar di pondok. Semoga sehat selalu"

Jum'at, pada pekan yang sama.
"Nak, ibuk mau telepon belum berani. Ini ibuk nunggu teleponmu nak..."

Begitulah..hari demi hari, ibu itu gelisah menunggu kabar dari anak sulungnya.
Ia tahu kalau sms yang dikirimnya tidak akan terkirim apalagi terbaca. Rindu menjadikannya tidak peduli.

Handphone yang baru di beli anaknya, ada masalah, bisa mengirim pesan tapi tidak bisa untuk menerima. Sedangkan ketentuan peraturan di pondok, santri tidak diperkenankan membawa smartphone.
Sejak hari pertama di pondok, handphone juga harus diserahkan ke bagian administrasi.

***

Minggu, Akhir bulan Juli 2018
saat pagi hari,
"Buk..
Alhamdulillah aku di sini betah.
Kalau hari Ahad jam 08.00 sampai jam 17.00 HPnya ibuk tolong di aktifkan ya...nanti tak telepon".

Sms dari anaknya, membuat ibuk itu gembira.
"Alhamdulillah, sayang..."
Begitu kalimat singkat jawaban untuk anaknya. Sekali lagi, ia tetap tak peduli bahwa anaknya tidak bisa membaca sms itu.


MERDEKA BELAJAR SEBAGAI SOLUSI MENGHADAPI COVID-19

  MERDEKA BELAJAR SEBAGAI SOLUSI MENGHADAPI COVID-19   A. MERDEKA BELAJAR           Istilah Merdeka Belajar diluncurkan pertama kali...